Manusia adalah makhluk yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yang ada di dunia ini, karena diberikan akal dan perasaan oleh Sang Pencipta. Namun dibalik kesempurnaan itu, tidak ada manusia di dunia ini yang tidak pernah berbuat salah. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, entah itu kepada sesama makhluk hidup maupun kepada Sang Khaliq. Oleh karena itu diperlukan suatu kata yang dapat mengungkapkan rasa kesesalan karena telah melakukan sebuah kesalahan. Kata itu ialah “MAAF”.

Maaf adalah sebuah kata yang biasa kita ucapkan untuk memohon ampun karena telah berbuat salah. Jika telah berbuat salah kepada seseorang maka kita akan mengucapakan “Maafkan saya”. Jika telah berbuat salah kepada Sang Khaliq kita juga mengucapkan “Maafkan hambaMu ini”. Jadi kata “Maaf” dapat menunjukkan rasa penyesalan kita karena sudah melakukan suatu kesalahan.

Maaf memang hanya terdiri dari empat huruf saja, namun untuk mengucapkannya sangat sulit. Kebanyakan dari kita lebih memilih diam membisu, menunggu seseorang mengucapkan kata maaf kepada kita daripada mengucapkan kata maaf duluan. Rasa ego yang dimiliki manusia membuatnya sangat susah untuk mengucapkan kata maaf. Manusia berpikir siapa yang berbuat salah maka dialah yang harus meminta maaf, apabila merasa tidak melakukan kesalahan maka tidak perlu mengucapkan kata maaf. Namun pernahkah kita berpikir bahwa tindakan atau ucapan-ucapan yang kita lakukan bisa saja menyakiti seseorang tanpa sepengetahuan kita. Oleh karena itu marilah kita mengalahkan rasa ego yang kita miliki, janganlah sungkan untuk mengucapkan kata maaf, karena lebih mulia meminta maaf daripada memaafkan.

Pada zaman yang modern ini banyak orang yang sangat mudah mengucapkan kata maaf, tapi kata maaf itu cuman sekedar ucapan saja, bukan berasal dari ketulusan hatinya untuk bersungguh-sungguh meminta maaf. Banyak orang yang melupakan esensi kata maaf. Kata maaf hanya mampir sementara dimulutnya saja, kemudian tidak ada tindakan selanjutnya. Kata maaf bukan berarti akhir dari segalanya. Setelah mengucapkan kata maaf dan mendapatkan maaf dari seseorang maka selesai sudah persoalannya, tapi sebenarnya baru awal dari esensi kata maaf itu sendiri. Yang terpenting dari kata maaf itu adalah tindakan kita selanjutnya yang berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya bahkan untuk selamanya.

Beberapa hari yang lalu kita mendengar orang-orang akan lebih sering mengucapkan kata maaf. Hari raya Idul Fitri digunakan sebagai hari yang tepat untuk saling maaf-memaafkan. Kita akan berlomba-lomba untuk meminta maaf, agar kita dapat kembali bersih dari segala dosa-dosa dihari yang suci. Memang hal ini tidak dilarang, bahkan sangat dianjurkan agama karena dapat menyambung dan mempererat tali silaturrahmi. Namun satu hal penting yang jangan sampai kita lupakan yaitu esensi dari kata maaf itu. Kata maaf jangan cuman berupa ucapan saja tetapi juga berupa tindakan untuk tidak melakukan kesalahan itu.

Meminta maaf dihari raya Idul Fitri sudah membudaya dikehidupan kita, mengingat sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam. Bahkan tidak jarang orang non-Muslim juga menggunakan kesempatan ini untuk saling meminta maaf. Budaya ini tidak salah, namun kenapa kita mesti menunggu hari raya Idul Fitri atau hari raya lainnya untuk saling meminta maaf. Mengapa kita mesti menyimpan kata maaf kita dan mengutarakannya pada hari-hari tertentu? Sebaiknya jika kita sudah merasa bersalah pada seseorang, maka segeralah untuk meminta maaf. Janganlah menunda-nunda untuk meminta maaf, karena semakin lama kita meminta maaf bisa saja rasa kesal orang itu terhadap kita semakin besar.

Kata “maaf” bukanlah hanya sebuah kata yang mengandung pengertian rasa pengakuan, penyesalan dan mohon ampun atas kesalahan yang telah diperbuat, namun kata “maaf” juga mengandung sebuah janji untuk berusaha semaksimal mungkin agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat menyakiti siapa pun. Namun kita sebagai manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan, maka kita juga tidak akan pernah luput dari kata “MAAF”.